75 days…
Oleh: Novi puRnawati
Di samping jendela kamar ini
ku duduk di atas kursi busa yang nampaknya baru di beli oleh pemiliknya. Ya,
aku baru pindah kost lagi, berharap dapat kamar yang layak, nyaman dan murah.
Sambil mengunyah biscuit yang di iklannya dapat melupakan masalah ketika
memakannya. Bohong. Masalah ku tetap saja tak bisa ku lupakan, semua terasa bagaikan petir yang menyambar
jantungku. Pedih, tak
tanggung-tanggung semua masalah
menghantam tubuh ini, tuhan tidak menguji di atas batas kemampuan umatnya. Mana?,
aku benar-benar tak tahan. Hutang dimana-mana, walau itu bukan sepenuhnya
hutangku, orang tua ku meninggal seminggu yang lalu, aku di usir dari kontrakan
dan pindah ke sini, tapi tetap saja para kolektor penagih hutang menemukan ku.
Dengan wajah yang sangar mereka mengancam dengan penuh harap uang mereka segera
aku kembalikan. Kakak-kakak ku entah dimana,mereka pergi tanpa kabar setelah
pemakaman orang tua.
Nasib memang, terpaksa aku ambil cuti kuliah, keterbatasan biaya
yang aku miliki sekarang rasanya tak mungkin aku
melanjutkan kuliah. Dengan ijazah SMA dan pengalaman mudah-mudahan aku di
terima kerja. Berencana pagi ini memasukan lamaran kerja di berbagai
perusahaaan tapi hujan tak kunjung reda. Masih dengan lamunan ku membayangkan
ada hujan uang yang turun.”hmmm…tak
mungkin”gumamku dalam hati. Telpon genggam ku bedering berkali-kali tak ku
hiraukan karna aku tau yang menelepon adalah rentenir itu. Entah dari siapa dia
mendapatkan nomor telpon ku. Bangsat…! Ku raih telpon genggam, ku baca sms
singkat yang baru saja aku terima.
“selamat pagi
saudara marfuad fuadi, anda telah berkali-kali jatuh tempo.”
“ Mohon untuk
segera melunasi. Kami beri waktu sampai tanggal 22 desember.”
“sampai batas
waktu tersebut anda belum melunasi, orang-orang saya terus mengejar anda dan
tidak segan melukai”
22 Desember? Gila! Aku hanya
di beri waktu 2,5 bulan, Sinting benar rentenir itu, dengan waktu sekitar 75 hari aku harus melunasi hutang sebesar Rp.150juta. Ah, 22desember? Bukankah
itu hari ibu. Jujur aku masih rindu beliau, tak sempat ku melihat wajahnya
terakhir kali. Maklum dari tempatku menimba ilmu menempuh perjalanan sehari
semalam dari rumah lewat darat, di kampung kami belum memiliki bandara,
seandainya aku punya kendaraan pribadi dengan secepat kilat aku menemui beliau.
Tetesan bening air mataku meleleh hingga pipi, buru-buru ku usap, berharap agar
tidak ada yang mengetahui.
Bissmillah… aku melangkah
keluar kamar, menuju teras tak lupa kukunci pintu kamar mungil itu. Matahari
tersenyum sinis… hmmm pengecut. Tidak aku bukan seperti itu, aku akan berjuang
agar orangtuaku tenang di alam sana. Ayah, ibu… selalu doakan anak mu ini dari alam sana, restui
ananda yang ingin membahagiakan dirimu wahai
orangtua ku, kebanggaan ku, jantung hatiku.
Hari ini
benar-benar gila, pagi tadi hujan lebat seperti
akan datang badai saja, sekarang panas luar biasa. Lelah
aku berjalan sepanjang trotoar kota ini,haus dan lapar juga terasa, apalah daya
dengan uang yang tersisa tak mungkin aku membelanjakannya,aku harus kuat. Toh,
di kost ada air mineral dan beberapa bungkus mi instan. Berjalan sambil melamun
membuat ku lupa tempat mana yang ku lewati, sekelilingku hanya rumah megah bak istana
milik para pengusaha kaya raya. Tampak ada seorang pria berusia kira-kira 50-an
tahun depan pekarangan, mencuci mobil dan
menyirami tanaman di halaman,”siang-siang
cuci mobil?ah, suruhan majikan”pikirku, Ku beranikan diri mendekat, andai saja aku pemilik dari mobil bagus tersebut.
“maaf dek, ada perlu apa?” lamunanku buyar seketika…
“ah, tidak
pak. Boleh saya minta sesuatu pak?” Tanya ku
“maaf dek,
saya sudah menyumbang”, hah, dengan baju kemeja
dan map di tangan aku di kira minta sumbangan. Sabar…
“tidak pak,
saya bukan mau minta sumbangan. Saya mau
minta air kerannya sedikit”
“oh, maaf dek,
boleh ambil saja.
Buat cuci muka?”
Aku senyum saja, lumayan
seger airnya. Ku minum beberapa tegukan, terasa nikmat di tenggorokan.
Sebelumnya tak pernah aku berfikir akan
minum air keran, “seperti kambing saja
aku…”gumamku dalam hati. Bergegas untuk berpamitan karna hari kian mulai
terik saja. Tapi pria itu menahan ku.
“sebentar dek” katanya sambil ngloyor
masuk ke dalam rumah.
Sementara aku menunggu, ku
duduk bersandar di tiang rumah itu. Penat rasanya, sejenak ku istrahatkan mataku, perih rupanya.
“dek…” tegurnya sambil memegang
pundak ku. Aku terkejut, karna barusaja aku mulai terlelap. hehe,.. ku lirik
sepiring nasi dan segelas jus orange di tangannya.
“silahkan dek,
di makan. Itu saya sendiri yang buat tadi, sekarang
mungkin sudah agak dingin, tapi coba saja
rasanya enak kok” katanya
Aku terharu, ternyata jaman
sekarang masih ada orang yang baik.
“terimakasih
banyak pak…”ku
terima nasi yang di berikannya, Alhamdulillah ya allah… langsung saja ku
lahap,bissmillah…”makanan rumahan,
lauknya sederhana, seperti yang pernah ibu suguhkan” kataku dalam hati
“bagaimana dek, rasanya tidak mengecewakan kan?” Tanya nya
“Alhamdulillah
pak, rasanya mirip buatan almh.ibu saya. Selera makan saya jadi tinggi pak” jawabku
sambil terus mengunyah.
“ibunya sudah
lama meninggal?” tanyanya kemudian
Deg… jantung ku seperti
berhenti berdetak, akan kah ku ingat lagi kepedihan ku itu? Sisa makanan yang
di mulut, segera ku telan, terasa nyangkut di tenggorokan, ku minum jus orange
itu,manis tapi tak terasa, lidah ku kelu.
“seminggu yang
lalu pak, dalam kecelakaan lalu lintas” jawab ku lemah
“maaf dek,
bapak tidak bermaksud unt…” pria itu belum melanjutkan ucapannya
“tidak apa-apa
pak”
jawabku memotong pembicaraannya seakan tahu apa yang akan di ucapkan pria itu.
“maaf soal
yang tadi, bapak kira, adek ini mau minta sumbangan” katanya
“saya selesai
melamar pekerjaan pak dari berbagai perusahaan” jawabku
“adek punya
ijazah?” tanyanya
“ya iyalah
pak, masa melamar kerjaan tidak pakai ijazah, melamar anak orang saja harus ada
syarat nya”
kataku sedikit guyon
“haha… maksud
bapak ijazah apa yang adek punya” katanya
Suasana mulai mencair, tidak
tegang lagi. Ku mulai menceritakan perjalanan hidupku yang terakhir ku hadapi.
Termasuk kuliah ku yang terpaksa cuti.
“besok adek bisa
kesini, kerumah ini lagi? Ada sedikit kerjaan” katanya
Alhamdulillah ya allah,, ayah, ibu… terimakasih.
“Alhamdulillah
pak, kerja apa saja saya siap. Terimakasih” Riang ku sambil menjabat tangan keriputnya
“sama-sama,
justru saya senang ada yang membantu saya”
Makin terharu aku jadinya…
“o iya dek,
bapak belum tahu namanya”
“nama saya
marfuad fuadi, pak. Tapi bapak panggil saja saya fuad”
“oke, sampai
ketemu besok” katanya
Setelah berpamitan aku
pulang dengan perasaan senang, terasa kaki ini ringan melangkah. Terimakasih ya
Allah, hamba tahu diri-Mu tidak tidur.
Ku buka kunci kamar ku, hah, seandainya kamar ini
elastis. Mungkin, semua barang bisa masuk. Setelah ku bersihkan diri dan
sholat, beristrahat sejenak melepas penat, sambil membayangkan akan ada apa
hari esok, kerjaan apa yang ku terima. Ah, masa bodoh yang penting halal. Sekarang,
pekerjaan apapun tak penting yang penting adalah hasilnya. Uang.
Tak terasa hari kian senja,
ku lirik jam di telpon genggam ku. Pukul 17:20, ada beberapa sms yang datang.
Entahlah, aku tak mau tahu, mungkin dari rentenir itu lagi. Edan, benar-benar
edan. Aku bangkit dari tempat tidur, mulai membersihkan diri, mandi dan sholat.
Lapar, tapi nanti lah. Segera ku raih telpon genggam ku baca satu persatu,
rentenir, rentenir, rentenir lagi, ah bosan di terror terus-menerus. Tunggu,
ada sms lain, sahabat ku jaya…
“fuad, fuad.
Sifat mu tetap tak berubah, masih tetap gengsi dan pelupa, hai bro, tak
ingatkah kau punya aku, aku sudah Berjaya sekarang, kukembalikan uang yang ku
pinjami dulu darimu, dan sekedar oleh -oleh juga aku selipkan beberapa lembar
uang dolar di rekeningmu” hmmm…
dasar jaya, sekarang banyak uang dia setelah jadi TKI. Ternyata hidupnya makin
jaya.
Sms dari pacar ku maya…
“assalamualikum kak, bagaimana kabar kakak? Adik
sekeluarga sudah dengar tentang musibah yang kakak alami, mohon maaf. Orang tua
adik sudah tidak setuju dengan hubungan kita, adik di jodoh kan dengan anak
dari sahabat bapak. Adik tidak kuasa menentang. Mudah-mudahan
kakak menemukan yang lebih baik dari adik” ya ya ya,
menikah lah dik dengan pilihan orang tua mu,
jangan pilih kakak menjadi suamimu, yang akan menyengsarakan
hidupmu. Karena, sekarang aku sudah jatuh tak berdaya.
Segera ku berangkat ke ATM
terdekat untuk sekedar mengecek uang yang ada di rekeningku.
Rp.5.763.399. Aku kaget setengah mati, Ternyata sahabat ku jaya… Terimakasih.
Setelah malam tadi ku lalui dengan rasa haru-biru,
pagi ini matahari menyambut ku dengan senyum
ramah nampaknya. Ku lirik jam di handphone ku, masih pukul 06:09, masih terlalu
pagi untuk pergi ke rumah pria itu, astagfirullah… namanya aku lupa menanyakan.
Sambil menyeruput kopi hangat, ku dengarkan lagu iwan fals yang ku putar lewat handphone.
“ Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,
lewati rintangan untuk aku anak mu…”
Lirik lagu itu mengingatkan ku akan perjuangan ibu
saat pendaftaran masuk perguruan tinggi, ibu, ayah… ananda
rindu belai manjamu. Pukul 07:00, segera ku berangkat
ke rumah pria itu, tak lupa mengunci pintu
kamar tentunya. Sepanjang jalan trotoar ku
merasa semua orang tersenyum padaku, mungkin
hanya perasaan ku saja.
Akhirnya sampai aku depan
rumah pria itu, tampak beliau sedang memotong rumput di halaman. “Mungkin aku di pekerjakan untuk membantu
beliau mengurusi halaman seluas itu, bagai miniature hutan saja…” fikirku.
Aku tertawa pada diriku sendiri, seharusnya tidak usah berpakaian seperti ini,
menjadi tukang kebun cukup bermodal kaos oblong dan celana pendek serta sandal
jepit.
“hei anak
muda! Dek fuad kemarilah” teriaknya
“iya pak!” jawabku
Segera aku menghampiri beliau…
“wah, dek fuad
ini rajin ya, pagi-pagi sudah datang”
Aku hanya tersenyum…
“dek fuad
sudah sarapan?” tanyanya
“Alhamdulillah
pak” jawab
ku
“nah dek fuad
kenapa berpakaian seperti itu?”
Wah, benar dugaan ku…
“ maaf pak,
kalau begitu saya pamit pulang untuk
mengambil baju ganti” kataku
“ah, tidak.
Tidak perlu lah” terlihat ia beranjak masuk ke dalam rumah, entahlah. Aku di suruhnya
menunggu di luar. Aku manut saja, namanya juga pesuruh. Tak berapa lama ia
keluar dengan pakaian rapi ala kantoran, datang menghampiri ku yang sedari tadi
menunggunya depan rumah.
”nah, nak. Bapak
minta tolong sebentar, tidak keberatan
kan?” pintanya
“iya pak,
silahkan. Mau minta tolong apa?” jawabku
“minta tolong
ya nak, jagain rumah bapak. Bapak ada keperluan sebentar” katanya. Oh my god… ternyata
this is home_nya bapak ini…ckckckc
“bagaimana ya pak, bukannya saya menolak untuk
menolong bapak. Tapi apa tidak sebaiknya bapak menyewa security. Bapak belum
lama mengenal saya, nanti jika ada sesuatu yang terjadi bagaimana pak” jawabku.
“saya ikhlas
nak, apapun yang terjadi pada saya. Harta pun tidak di bawa mati” jawabnya
lantang.
Aku sebenarnya ragu. Tapi apa
boleh buat, bapak itu meminta. Diberikannya kunci. Selain kunci rumah dan
pagar, entah kunci apa lagi. Terlalu banyak kunci yang di berikan.
Sehari_dua hari. Aku menunggui rumah yang penghuninya
entah kemana. Seminggu, ya… sudah seminggu berlalu. Aku bahkan tak punya nomor
telponnya yang bisa ku hubungi, bosan juga rasanya. Ku berjalan menuju ruang
baca keluarga, disana terpampang foto keluarga besarnya. Terdiri dari beliau
serta istri dan beberapa sanak saudara yang lainnya. Tiba-tiba terdengar suara
bel berbunyi, ku buka pintu perlahan. Seorang pria berambut cepak rapi berdiri
depan pintu, sembari tersenyum pria itu menyapaku dengan lembut.
“selamat pagi.
Maaf, apakah anda marfuad fuadi?” tanyanya sopan
“iya betul,
ada apa pak?” Tanya ku penasaran, karena entah
dari mana beliau tahu namaku… akankah pesuruh rentenir itu? Rasanya tak mungkin
juga.
Setelah berapa lama basa-basi sejenak, memperkenalkan
diri, beliau adalah Pengacara Juandi. Pengacara yang telah lama bekerja
untuk pemilik rumah ini (bpk. Mahkendra Asbuni) pria itu menyampaikan maksud
kedatangannya kemari, termasuk juga asal muasal beliau tahu namaku.
Astaghfirullah… innalillahi wainna illahi rojiun… sang empunya rumah, sang
majikan ku, mengalami kecelakaan lalu lintas. Tepatnya seminggu yang lalu. Ah,
bukankah itu waktu di mana beliau menitipkan rumahnya untuk aku jaga, berada di
rumah sakit dalam keadaan koma. Ku meminta agar pak Indra (Mahkendra Asbuni)
untuk di rawat dirumah saja. Karena dokter pun telah angkat tangan, memilih
untuk mundur dalam pengobatan beliau. Hanya kebesaran Allah lah beliau dapat
hidup. Jujur aku kasihan dan merasa iba, beliau hidup sendiri tanpa ada yang
menemani, keluarga besarnya telah tiada, meninggal massal dalam kecelakaan
pesawat terbang. Yang beliau carter. Sungguh malang nasib mu…
Ini sudah
minggu ke-3 sejak kembalinya beliau ke rumah, sembari ku merawat beliau, ku
mulai menata perusahannya yang mulai runtuh. Sengaja ku meminta assisten untuk
membantuku secara tidak langsung aku terawasi. Tak ku fikir berapa gaji yang ku
terima, aku ikhlas lillahi ta’ala.
Sedikit demi sedikit perusahaan mulai stabil,
Alhamdulillah. Sebelum pergi dan pulang kantor selalu ku temani pak indra yang
terbujur tak berdaya di atas tempat tidurnya, merawat dan mengajaknya
bercerita, tentang apa saja. Termasuk tentang hari-hari yang ku lalui, bahkan
beliau pun tidak Nampak tersenyum atau mengangguk, menggeleng, terlihat percuma
bukan.
Minggu ke-4, hari yang sangat melelah kan. Ku pulang
pukul: 02.00 dini hari, semenjak ku tinggal di rumah ini, kostan ku tinggal.
Entah berapa kali melahirkan bayi para tikus di sana, aku tak peduli lagi. Malam
ini Ku urungkan niat untuk menjenguk pak indra di kamarnya, sekarang ada
Inayah, pembantu yang ku pekerjakan 3hari lalu, hanya untuk membantuku merawat
pak indra. Semenjak Inayah ku pekerjakan, telah jarang ku menjenguk pak indra.
Karena memang pekerjaan kantor sangat banyak, aku sering bergadang. Tak berapa
lama aku tertidur tiba-tiba terdengar suara…
GUBRAAAKK…. PRAAAAAANGG…
Suara benda jatuh dan terdengar arahnya dari kamar pak
indra, buru-buru aku menuju kamar tersebut khawatir sesuatu menimpa pak indra.
Ternyata…
MASYAALLAH…
Pak indra jatuh dari tempat
tidurya. Tengkurap bersama selimut yang biasa menutupi tubuhnya. Tapi, Mengapa
bisa? Jangan kan untuk berpindah tempat, menggerakan jari pun ia tidak bisa.
Segera ku panggil Inayah untuk membantuku mengangkat pak indra kembali ke
tempat tidurnya. Aku kaget, mata pak
indra yang semula terpejam kini terbuka, tangan yang biasanya lemah tak
berdaya, kini merangkul pundak ku. Ku suruh Inayah menelpon dokter. Dokter pun
datang dan segera memeriksa pak Indra, “sungguh
keajaiban” ujar nya.
ALHAMDULILLAH… YA ALLAH.
Semalam ku menungguinya
tertidur dan menjaganya agar tidak terjadi lagi yang seperti itu. Sengaja ku
tak kekantor pagi ini, karena ingin menemani pak Indra. Pagi sekali sudah ku
buatkan bubur dan susu hangat untuk pak Indra. Beliau belum bangun tampaknya,
segera ku balik badan menuju keluar kamar itu.
“nak fuad…” suara
memanggil, ku menengok kebelakang. Ternyata pak Indra.
“ya pak?” segera ku melangkah menuju
beliau yang sedang berbaring di atas ranjangnya.
“duduk lah
nak, di samping ku…” ujarnya, aku pun manut saja.
Beliau mulai bercerita dari
awal perjalanan karirnya, sampai kemarin ia bermimpi bertemu keluarga besar
yang ia cintai…
“aku tidak
peduli nak, dengan apa yang menimpaku… itu semua takdir. Aku ikhlas”ucapnya, ya Allah, ampuni
hambamu yang kurang bersyukur ini. Beliau selama ini hidup sendiri tak pernah
mengeluh dan selalu bersyukur dan ikhlas.
“nak, selama peristrahatan panjangku. Aku tahu apa
yang kau lakukan, dan aku tahu kau anak yang baik dan jujur. Ingat nak,
pertahankan kejujuran mu. Tanamkan nilai kejujuran pada anakmu kelak. Jujur
tidak akan menyesatkan mu.” Sambungnya. Aku tahu, itulah tanggung jawabku. Ah, tanggung
jawab? Aku ingat, ayah ibuku belum tenang di alam sana. Sebulan lagi waktuku
melunasi hutang – hutang beliau berdua. Tidak bisa, dengan waktu yang singkat
itu, dengan tabungan ku yang terkumpul. Tak seberapa…
“nak, apapun
yang menimpamu saat ini, hadapilah. Jangan pernah takut pada apapun di dunia
ini, kecuali dosa dan yang maha pencipta.hindari lah dosa nak, dan tunduk lah
pada yang maha pencipta” lanjutnya.
“iya pak, saya
terlalu terobsesi selama ini, saya terlalu mengutuk diri dan menjadikan diri
ini budak nafsu…” aku ku.
“nak, banyak
janji-janji Allah. Allah pernah berfirman dalam hadits Qudsi,”Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri
kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah Aku
fardhukan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan
sunah-sunah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya,Aku
menjadi pendengaran yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang
dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, dan
menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku,
niscaya Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku,
niscaya Aku akan melindunginya…” ingatlah nak.” Katanya. Aku terdiam,… tak
berapa lama, datang seorang yang tak asing dan mungkin pernah kulihat… ah,
pengacara Juandi. Masih dalam kamar pak Indra, pengacara Juandi mulai dengan
menceritakan kisah pak Indra, harta yang di miliki pa indra serta surat
wasiatnya (aku tak tahu tujuannya apa).
”akan
menyerahkan ½ dari kekayaan ku kepada panti asuhan. Dan selebihnya akan di
kelola oleh saudara Marfuad Fuadi…” samar-samar ku dengar.
“mohon
ulangi?”
pintaku
”akan menyerahkan ½ dari kekayaan ku kepada panti
asuhan. Dan selebihnya akan di kelola oleh saudara Marfuad Fuadi…” ulangnya. Tidak kah
pendengaran ku salah? Mengapa beliau lakukan ini? Apa beliau kasihan kepadaku?
Beribu pertanyaan muncul dalam benakku… ah, pak Indra seharusnya tidak perlu
seperti ini.
Pengacara Juandi selesai dengan pembacaan surat wasiat
itu, ia meminta tanda tangan pak Indra dan aku. Aku masih bengong, entah
mengapa. Tangan ku gemetar, aku tak sanggup menandatangani surat tetek bengek
itu.
“yo wes lah pak,
tanda tangan saja, wong mau di kasih duit kok malah bingung” ujar Inayah
dengan logat jawanya yang medok, entah sejak kapan ia berada di sini. Aku
manut, dan menandatangani berkas-berkas itu. Pak Indra yang sedari tadi
menatapku haru mulai memelukku, aku menyambut pelukannya.
“terimakasih
pak…” kataku
sambil memeluk nya hangat.
“tidak nak,
terimakasih. tolong ingat pesan-pesan ku nak, dan lunasi hutang orangtuamu,
agar mereka tenang di alam sana”
“terimakasih
banyak pak, terimakasih. sungguh.”kataku dengan isak tangis kebahagiaan.
Tak kurasakan detak
jantungnya dalam pelukan ku, segera ku sandarkan beliau di atas bantal. Cemas
tak karuan aku, segera ku suruh Inayah untuk memanggil dokter.
“pak Indra,
pak. Pak.” Panggilku
sembari menepuk pipinya yang keriput.
“sabar dek,
beliau telah tiada. Ikhlaskan lah” ujar pengacara juandi
Pak indra meninggalkan semua
kenangan yang tak terlupakan, dengan pertemuan singkatnya denganku, beliau
mengajarkan ku banyak hal. Terimakasih pak, semoga kau tenang di alam sana.
Buat ayah dan ibuku, aku mengikhlaskan kalian pergi menghadap-Nya. Terimakasih,
sungguh.
---TAMAT---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar