Selasa, 15 Oktober 2013

cerpen



75 days…
Oleh: Novi puRnawati
Di samping jendela kamar ini ku duduk di atas kursi busa yang nampaknya baru di beli oleh pemiliknya. Ya, aku baru pindah kost lagi, berharap dapat kamar yang layak, nyaman dan murah. Sambil mengunyah biscuit yang di iklannya dapat melupakan masalah ketika memakannya. Bohong. Masalah ku tetap saja tak bisa ku lupakan, semua terasa bagaikan petir yang menyambar jantungku. Pedih, tak tanggung-tanggung  semua masalah menghantam tubuh ini, tuhan tidak menguji di atas batas kemampuan umatnya. Mana?, aku benar-benar tak tahan. Hutang dimana-mana, walau itu bukan sepenuhnya hutangku, orang tua ku meninggal seminggu yang lalu, aku di usir dari kontrakan dan pindah ke sini, tapi tetap saja para kolektor penagih hutang menemukan ku. Dengan wajah yang sangar mereka mengancam dengan penuh harap uang mereka segera aku kembalikan. Kakak-kakak ku entah dimana,mereka pergi tanpa kabar setelah pemakaman orang tua.
Nasib memang, terpaksa aku ambil cuti kuliah, keterbatasan biaya yang aku miliki sekarang rasanya tak mungkin aku melanjutkan kuliah. Dengan ijazah SMA dan pengalaman mudah-mudahan aku di terima kerja. Berencana pagi ini memasukan lamaran kerja di berbagai perusahaaan tapi hujan tak kunjung reda. Masih dengan lamunan ku membayangkan ada hujan uang yang turun.”hmmm…tak mungkin”gumamku dalam hati. Telpon genggam ku bedering berkali-kali tak ku hiraukan karna aku tau yang menelepon adalah rentenir itu. Entah dari siapa dia mendapatkan nomor telpon ku. Bangsat…! Ku raih telpon genggam, ku baca sms singkat yang baru saja aku terima.
“selamat pagi saudara marfuad fuadi, anda telah berkali-kali jatuh tempo.”

“ Mohon untuk segera melunasi. Kami beri waktu sampai tanggal 22 desember.”

“sampai batas waktu tersebut anda belum melunasi, orang-orang saya terus mengejar anda dan tidak segan melukai”
22 Desember? Gila! Aku hanya di beri waktu 2,5 bulan, Sinting benar rentenir itu, dengan waktu sekitar  75 hari aku harus melunasi hutang  sebesar Rp.150juta. Ah, 22desember? Bukankah itu hari ibu. Jujur aku masih rindu beliau, tak sempat ku melihat wajahnya terakhir kali. Maklum dari tempatku menimba ilmu menempuh perjalanan sehari semalam dari rumah lewat darat, di kampung kami belum memiliki bandara, seandainya aku punya kendaraan pribadi dengan secepat kilat aku menemui beliau. Tetesan bening air mataku meleleh hingga pipi, buru-buru ku usap, berharap agar tidak ada yang mengetahui.
Bissmillah… aku melangkah keluar kamar, menuju teras tak lupa kukunci pintu kamar mungil itu. Matahari tersenyum sinis… hmmm pengecut. Tidak aku bukan seperti itu, aku akan berjuang agar orangtuaku tenang di alam sana. Ayah, ibu… selalu doakan anak mu ini dari alam sana, restui ananda yang ingin membahagiakan dirimu wahai orangtua ku, kebanggaan ku, jantung hatiku.
Hari ini benar-benar gila, pagi tadi hujan lebat seperti akan datang badai saja, sekarang panas luar biasa. Lelah aku berjalan sepanjang trotoar kota ini,haus dan lapar juga terasa, apalah daya dengan uang yang tersisa tak mungkin aku membelanjakannya,aku harus kuat. Toh, di kost ada air mineral dan beberapa bungkus mi instan. Berjalan sambil melamun membuat ku lupa tempat mana yang ku lewati, sekelilingku hanya rumah megah bak istana milik para pengusaha kaya raya. Tampak ada seorang pria berusia kira-kira 50-an tahun depan pekarangan, mencuci mobil dan menyirami tanaman di halaman,”siang-siang cuci mobil?ah, suruhan majikan”pikirku, Ku beranikan diri mendekat, andai saja aku pemilik dari mobil bagus tersebut.
“maaf dek, ada perlu apa?” lamunanku buyar seketika…
“ah, tidak pak. Boleh saya minta sesuatu pak?” Tanya ku
“maaf dek, saya sudah menyumbang”, hah, dengan baju kemeja dan map di tangan aku di kira minta sumbangan. Sabar…
“tidak pak, saya bukan mau minta sumbangan. Saya mau minta air kerannya sedikit”
“oh, maaf dek, boleh ambil saja. Buat cuci muka?”
Aku senyum saja, lumayan seger airnya. Ku minum beberapa tegukan, terasa nikmat di tenggorokan. Sebelumnya tak pernah aku berfikir akan minum air keran, “seperti kambing saja aku…”gumamku dalam hati. Bergegas untuk berpamitan karna hari kian mulai terik saja. Tapi pria itu menahan ku.
“sebentar dek” katanya sambil ngloyor masuk ke dalam rumah.
Sementara aku menunggu, ku duduk bersandar di tiang rumah itu. Penat rasanya, sejenak ku istrahatkan mataku, perih rupanya.
“dek…” tegurnya sambil memegang pundak ku. Aku terkejut, karna barusaja aku mulai terlelap. hehe,.. ku lirik sepiring nasi dan segelas jus orange di tangannya.
“silahkan dek, di makan. Itu saya sendiri yang buat tadi, sekarang mungkin sudah agak dingin, tapi coba saja rasanya enak kok” katanya
Aku terharu, ternyata jaman sekarang masih ada orang yang baik.
“terimakasih banyak pak…”ku terima nasi yang di berikannya, Alhamdulillah ya allah… langsung saja ku lahap,bissmillah…”makanan rumahan, lauknya sederhana, seperti yang pernah ibu suguhkan” kataku dalam hati
“bagaimana dek, rasanya tidak mengecewakan kan?” Tanya nya
Alhamdulillah pak, rasanya mirip buatan almh.ibu saya. Selera makan saya jadi tinggi pak” jawabku sambil terus mengunyah.
“ibunya sudah lama meninggal?” tanyanya kemudian
Deg… jantung ku seperti berhenti berdetak, akan kah ku ingat lagi kepedihan ku itu? Sisa makanan yang di mulut, segera ku telan, terasa nyangkut di tenggorokan, ku minum jus orange itu,manis tapi tak terasa, lidah ku kelu.
“seminggu yang lalu pak, dalam kecelakaan lalu lintas” jawab ku lemah
“maaf dek, bapak tidak bermaksud unt…” pria itu belum melanjutkan ucapannya
“tidak apa-apa pak” jawabku memotong pembicaraannya seakan tahu apa yang akan di ucapkan pria itu.
“maaf soal yang tadi, bapak kira, adek ini mau minta sumbangan” katanya
“saya selesai melamar pekerjaan pak dari berbagai perusahaan” jawabku
“adek punya ijazah?” tanyanya
“ya iyalah pak, masa melamar kerjaan tidak pakai ijazah, melamar anak orang saja harus ada syarat nya” kataku sedikit guyon
“haha… maksud bapak ijazah apa yang adek punya” katanya
Suasana mulai mencair, tidak tegang lagi. Ku mulai menceritakan perjalanan hidupku yang terakhir ku hadapi. Termasuk kuliah ku yang terpaksa cuti.
“besok adek bisa kesini, kerumah ini lagi? Ada sedikit kerjaan”  katanya
Alhamdulillah ya allah,, ayah, ibu… terimakasih.
“Alhamdulillah pak, kerja apa saja saya siap. Terimakasih” Riang ku sambil menjabat tangan keriputnya
“sama-sama, justru saya senang ada yang membantu saya”
Makin terharu aku jadinya…
“o iya dek, bapak belum tahu namanya”
“nama saya marfuad fuadi, pak. Tapi bapak panggil saja saya fuad”
“oke, sampai ketemu besok” katanya
Setelah berpamitan aku pulang dengan perasaan senang, terasa kaki ini ringan melangkah. Terimakasih ya Allah, hamba tahu diri-Mu tidak tidur.
Ku buka kunci kamar ku, hah, seandainya kamar ini elastis. Mungkin, semua barang bisa masuk. Setelah ku bersihkan diri dan sholat, beristrahat sejenak melepas penat, sambil membayangkan akan ada apa hari esok, kerjaan apa yang ku terima. Ah, masa bodoh yang penting halal. Sekarang, pekerjaan apapun tak penting yang penting adalah hasilnya. Uang.
Tak terasa hari kian senja, ku lirik jam di telpon genggam ku. Pukul 17:20, ada beberapa sms yang datang. Entahlah, aku tak mau tahu, mungkin dari rentenir itu lagi. Edan, benar-benar edan. Aku bangkit dari tempat tidur, mulai membersihkan diri, mandi dan sholat. Lapar, tapi nanti lah. Segera ku raih telpon genggam ku baca satu persatu, rentenir, rentenir, rentenir lagi, ah bosan di terror terus-menerus. Tunggu, ada sms lain, sahabat ku jaya…
fuad, fuad. Sifat mu tetap tak berubah, masih tetap gengsi dan pelupa, hai bro, tak ingatkah kau punya aku, aku sudah Berjaya sekarang, kukembalikan uang yang ku pinjami dulu darimu, dan sekedar oleh -oleh juga aku selipkan beberapa lembar uang dolar di rekeningmu”  hmmm… dasar jaya, sekarang banyak uang dia setelah jadi TKI. Ternyata hidupnya makin jaya.

Sms dari pacar ku maya…
“assalamualikum kak, bagaimana kabar kakak? Adik sekeluarga sudah dengar tentang musibah yang kakak alami, mohon maaf. Orang tua adik sudah tidak setuju dengan hubungan kita, adik di jodoh kan dengan anak dari sahabat bapak. Adik tidak kuasa menentang. Mudah-mudahan kakak menemukan yang lebih baik dari adik”  ya ya ya, menikah lah dik dengan pilihan orang tua mu, jangan pilih kakak menjadi suamimu, yang akan menyengsarakan hidupmu. Karena, sekarang aku sudah jatuh tak berdaya.
Segera ku berangkat ke ATM terdekat untuk sekedar mengecek uang yang ada di rekeningku. Rp.5.763.399. Aku kaget setengah mati, Ternyata sahabat ku jaya… Terimakasih.
Setelah malam tadi ku lalui dengan rasa haru-biru, pagi ini matahari menyambut ku dengan senyum ramah nampaknya. Ku lirik jam di handphone ku, masih pukul 06:09, masih terlalu pagi untuk pergi ke rumah pria itu, astagfirullah… namanya aku lupa menanyakan. Sambil menyeruput kopi hangat, ku dengarkan lagu iwan fals yang ku putar lewat handphone.
“ Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,                                                                                   
            lewati rintangan untuk aku anak mu…”
Lirik lagu itu mengingatkan ku akan perjuangan ibu saat pendaftaran masuk  perguruan tinggi, ibu, ayah… ananda rindu belai manjamu. Pukul 07:00, segera ku berangkat ke rumah pria itu, tak lupa mengunci pintu kamar tentunya. Sepanjang jalan trotoar ku merasa semua orang tersenyum padaku, mungkin hanya perasaan ku saja.
Akhirnya sampai aku depan rumah pria itu, tampak beliau sedang memotong rumput di halaman. “Mungkin aku di pekerjakan untuk membantu beliau mengurusi halaman seluas itu, bagai miniature hutan saja…” fikirku. Aku tertawa pada diriku sendiri, seharusnya tidak usah berpakaian seperti ini, menjadi tukang kebun cukup bermodal kaos oblong dan celana pendek serta sandal jepit.
“hei anak muda! Dek fuad kemarilah” teriaknya
“iya pak!” jawabku
Segera aku menghampiri beliau…
“wah, dek fuad ini rajin ya, pagi-pagi sudah datang”
Aku hanya tersenyum…
“dek fuad sudah sarapan?” tanyanya
“Alhamdulillah pak” jawab ku
“nah dek fuad kenapa berpakaian seperti itu?”
Wah, benar dugaan ku…
“ maaf pak, kalau begitu saya  pamit pulang untuk mengambil baju ganti” kataku
“ah, tidak. Tidak perlu lah” terlihat ia beranjak masuk ke dalam rumah, entahlah. Aku di suruhnya menunggu di luar. Aku manut saja, namanya juga pesuruh. Tak berapa lama ia keluar dengan pakaian rapi ala kantoran, datang menghampiri ku yang sedari tadi menunggunya depan rumah.
”nah, nak. Bapak  minta tolong sebentar, tidak keberatan kan?” pintanya
“iya pak, silahkan. Mau  minta tolong apa?” jawabku
“minta tolong ya nak, jagain rumah bapak. Bapak ada keperluan sebentar” katanya. Oh my god… ternyata this is home_nya bapak ini…ckckckc
“bagaimana ya pak, bukannya saya menolak untuk menolong bapak. Tapi apa tidak sebaiknya bapak menyewa security. Bapak belum lama mengenal saya, nanti jika ada sesuatu yang terjadi bagaimana pak” jawabku.
saya ikhlas nak, apapun yang terjadi pada saya. Harta pun tidak di bawa mati” jawabnya lantang.
Aku sebenarnya ragu. Tapi apa boleh buat, bapak itu meminta. Diberikannya kunci. Selain kunci rumah dan pagar, entah kunci apa lagi. Terlalu banyak kunci yang di berikan.
Sehari_dua hari. Aku menunggui rumah yang penghuninya entah kemana. Seminggu, ya… sudah seminggu berlalu. Aku bahkan tak punya nomor telponnya yang bisa ku hubungi, bosan juga rasanya. Ku berjalan menuju ruang baca keluarga, disana terpampang foto keluarga besarnya. Terdiri dari beliau serta istri dan beberapa sanak saudara yang lainnya. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, ku buka pintu perlahan. Seorang pria berambut cepak rapi berdiri depan pintu, sembari tersenyum pria itu menyapaku dengan lembut.
selamat pagi. Maaf, apakah anda marfuad fuadi?” tanyanya sopan
“iya betul, ada apa pak?”  Tanya ku penasaran, karena entah dari mana beliau tahu namaku… akankah pesuruh rentenir itu? Rasanya tak mungkin juga.
Setelah berapa lama basa-basi sejenak, memperkenalkan diri, beliau adalah Pengacara Juandi. Pengacara yang telah lama bekerja untuk pemilik rumah ini (bpk. Mahkendra Asbuni) pria itu menyampaikan maksud kedatangannya kemari, termasuk juga asal muasal beliau tahu namaku. Astaghfirullah… innalillahi wainna illahi rojiun… sang empunya rumah, sang majikan ku, mengalami kecelakaan lalu lintas. Tepatnya seminggu yang lalu. Ah, bukankah itu waktu di mana beliau menitipkan rumahnya untuk aku jaga, berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Ku meminta agar pak Indra (Mahkendra Asbuni) untuk di rawat dirumah saja. Karena dokter pun telah angkat tangan, memilih untuk mundur dalam pengobatan beliau. Hanya kebesaran Allah lah beliau dapat hidup. Jujur aku kasihan dan merasa iba, beliau hidup sendiri tanpa ada yang menemani, keluarga besarnya telah tiada, meninggal massal dalam kecelakaan pesawat terbang. Yang beliau carter. Sungguh malang nasib mu…
Ini sudah minggu ke-3 sejak kembalinya beliau ke rumah, sembari ku merawat beliau, ku mulai menata perusahannya yang mulai runtuh. Sengaja ku meminta assisten untuk membantuku secara tidak langsung aku terawasi. Tak ku fikir berapa gaji yang ku terima, aku ikhlas lillahi ta’ala.
Sedikit demi sedikit perusahaan mulai stabil, Alhamdulillah. Sebelum pergi dan pulang kantor selalu ku temani pak indra yang terbujur tak berdaya di atas tempat tidurnya, merawat dan mengajaknya bercerita, tentang apa saja. Termasuk tentang hari-hari yang ku lalui, bahkan beliau pun tidak Nampak tersenyum atau mengangguk, menggeleng, terlihat percuma bukan.
Minggu ke-4, hari yang sangat melelah kan. Ku pulang pukul: 02.00 dini hari, semenjak ku tinggal di rumah ini, kostan ku tinggal. Entah berapa kali melahirkan bayi para tikus di sana, aku tak peduli lagi. Malam ini Ku urungkan niat untuk menjenguk pak indra di kamarnya, sekarang ada Inayah, pembantu yang ku pekerjakan 3hari lalu, hanya untuk membantuku merawat pak indra. Semenjak Inayah ku pekerjakan, telah jarang ku menjenguk pak indra. Karena memang pekerjaan kantor sangat banyak, aku sering bergadang. Tak berapa lama aku tertidur tiba-tiba terdengar suara…
GUBRAAAKK…. PRAAAAAANGG…
Suara benda jatuh dan terdengar arahnya dari kamar pak indra, buru-buru aku menuju kamar tersebut khawatir sesuatu menimpa pak indra. Ternyata…
MASYAALLAH…
Pak indra jatuh dari tempat tidurya. Tengkurap bersama selimut yang biasa menutupi tubuhnya. Tapi, Mengapa bisa? Jangan kan untuk berpindah tempat, menggerakan jari pun ia tidak bisa. Segera ku panggil Inayah untuk membantuku mengangkat pak indra kembali ke tempat tidurnya.  Aku kaget, mata pak indra yang semula terpejam kini terbuka, tangan yang biasanya lemah tak berdaya, kini merangkul pundak ku. Ku suruh Inayah menelpon dokter. Dokter pun datang dan segera memeriksa pak Indra, “sungguh keajaiban” ujar nya.
ALHAMDULILLAH… YA ALLAH.
Semalam ku menungguinya tertidur dan menjaganya agar tidak terjadi lagi yang seperti itu. Sengaja ku tak kekantor pagi ini, karena ingin menemani pak Indra. Pagi sekali sudah ku buatkan bubur dan susu hangat untuk pak Indra. Beliau belum bangun tampaknya, segera ku balik badan menuju keluar kamar itu.
nak fuad…” suara memanggil, ku menengok kebelakang. Ternyata pak Indra.
“ya pak?” segera ku melangkah menuju beliau yang sedang berbaring di atas ranjangnya.
“duduk lah nak, di samping ku…” ujarnya, aku pun manut saja.
Beliau mulai bercerita dari awal perjalanan karirnya, sampai kemarin ia bermimpi bertemu keluarga besar yang ia cintai…
“aku tidak peduli nak, dengan apa yang menimpaku… itu semua takdir. Aku ikhlas”ucapnya, ya Allah, ampuni hambamu yang kurang bersyukur ini. Beliau selama ini hidup sendiri tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur dan ikhlas.
“nak, selama peristrahatan panjangku. Aku tahu apa yang kau lakukan, dan aku tahu kau anak yang baik dan jujur. Ingat nak, pertahankan kejujuran mu. Tanamkan nilai kejujuran pada anakmu kelak. Jujur tidak akan menyesatkan mu.” Sambungnya. Aku tahu, itulah tanggung jawabku. Ah, tanggung jawab? Aku ingat, ayah ibuku belum tenang di alam sana. Sebulan lagi waktuku melunasi hutang – hutang beliau berdua. Tidak bisa, dengan waktu yang singkat itu, dengan tabungan ku yang terkumpul. Tak seberapa…
“nak, apapun yang menimpamu saat ini, hadapilah. Jangan pernah takut pada apapun di dunia ini, kecuali dosa dan yang maha pencipta.hindari lah dosa nak, dan tunduk lah pada yang maha pencipta” lanjutnya.
“iya pak, saya terlalu terobsesi selama ini, saya terlalu mengutuk diri dan menjadikan diri ini budak nafsu…” aku ku.
“nak, banyak janji-janji Allah. Allah pernah berfirman dalam hadits Qudsi,”Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah Aku fardhukan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunah-sunah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya,Aku menjadi pendengaran yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya…” ingatlah nak.” Katanya. Aku terdiam,… tak berapa lama, datang seorang yang tak asing dan mungkin pernah kulihat… ah, pengacara Juandi. Masih dalam kamar pak Indra, pengacara Juandi mulai dengan menceritakan kisah pak Indra, harta yang di miliki pa indra serta surat wasiatnya (aku tak tahu tujuannya apa).
”akan menyerahkan ½ dari kekayaan ku kepada panti asuhan. Dan selebihnya akan di kelola oleh saudara Marfuad Fuadi…” samar-samar ku dengar.
“mohon ulangi?” pintaku
”akan menyerahkan ½ dari kekayaan ku kepada panti asuhan. Dan selebihnya akan di kelola oleh saudara Marfuad Fuadi…” ulangnya. Tidak kah pendengaran ku salah? Mengapa beliau lakukan ini? Apa beliau kasihan kepadaku? Beribu pertanyaan muncul dalam benakku… ah, pak Indra seharusnya tidak perlu seperti ini.
Pengacara Juandi selesai dengan pembacaan surat wasiat itu, ia meminta tanda tangan pak Indra dan aku. Aku masih bengong, entah mengapa. Tangan ku gemetar, aku tak sanggup menandatangani surat tetek bengek itu.
yo wes lah pak, tanda tangan saja, wong mau di kasih duit kok malah bingung” ujar Inayah dengan logat jawanya yang medok, entah sejak kapan ia berada di sini. Aku manut, dan menandatangani berkas-berkas itu. Pak Indra yang sedari tadi menatapku haru mulai memelukku, aku menyambut pelukannya.
“terimakasih pak…” kataku sambil memeluk nya hangat.
“tidak nak, terimakasih. tolong ingat pesan-pesan ku nak, dan lunasi hutang orangtuamu, agar mereka tenang di alam sana”
“terimakasih banyak pak, terimakasih. sungguh.”kataku dengan isak tangis kebahagiaan.
Tak kurasakan detak jantungnya dalam pelukan ku, segera ku sandarkan beliau di atas bantal. Cemas tak karuan aku, segera ku suruh Inayah untuk memanggil dokter.
“pak Indra, pak. Pak.” Panggilku sembari menepuk pipinya yang keriput.
“sabar dek, beliau telah tiada. Ikhlaskan lah” ujar pengacara juandi
Pak indra meninggalkan semua kenangan yang tak terlupakan, dengan pertemuan singkatnya denganku, beliau mengajarkan ku banyak hal. Terimakasih pak, semoga kau tenang di alam sana. Buat ayah dan ibuku, aku mengikhlaskan kalian pergi menghadap-Nya. Terimakasih, sungguh.


---TAMAT---




Tidak ada komentar:

Posting Komentar